Kumpulan Soal dan Jawaban Ulangan Anak-anak

Malam ini, saya kembali membuka beberapa foto-foto yang sudah saya kunci rapat dalam sebuah folder bernama ‘File Pengajar Muda’. Tadinya sebatas ingin cari foto bagus untuk apdet medsos. Tapi apa daya, buka folder setitik, baper tanpa akhir sebelanga, hestek bukanperibahasa.

Diantara kumpulan foto tersebut, ada beberapa screen capture soal-soal ulangan anak-anak. Ya, ketika di desa, salah satu momen yang paling saya tunggu saat menjadi PM adalah mengoreksi hasil ulangan mereka. Dikala sebagian besar guru memilih membuat soal pilihan berganda, maka saya lebih suka membuat soal essay. Kenapa? Karena ada hiburan tersendiri yang muncul dari jawaban anak-anak. Dan berikut adalah kumpulan soal dan jawaban dari anak-anak murid saya, juga dari murid-murid teman-teman saya di Paser.

Kelas 1

Q: Waktu ku kecil hidupku amatlah…..

A: susah

*lah dia curhat.. 😀

 

Q: Kalau sakit, aku minum……

A: Belajar bersama teman, aku senang.

*bebas Nak, bebaaaaaas…. Kelakuan muridnya Della.

 

Q: Jika berbuat salah, hendaknya meminta….

A: uang.

*Duilee matre. 

 

Kelas 2

Q: Dalam berusaha, harus dengan…..

A: hati

*ciyeeee…Ini muridnya Sarah.

 

Kelas 3

Q: Dimana Abu Bakar dilahirkan?

A: Di dapur.

* Bingung? Sama! Fyi, di desa beberapa rumah memasak dengan bahan kayu bakar yang menghasilkan abu. Nak, ini bukan abu gosok, Nak.

 

Q: Salah satu dari empat sehat lima sempurna yang dihasilkan oleh Sapi dan membuat kita kuat adalah?

A: Batere.

Q: Kok batere?

A: Karena Alkaline batere kuat dan tahan lama.

*korban iklan tv. Jawaban seharusnya: Susu.

 

Q: Kura-kura, ayam, dan ikan berkembang biak dengan cara…..

A: Berenang dan terbang.

*nggak sekalian sambil lari, Nak. Jawaban seharusnya: Bertelur.

 

Q: Tanpa ………. Matahari, tumbuhan tidak dapat berfotosintesis.

A: Kamu.

*KAMU…..Nak, kamu kebanyakan nonton sinetron.

 

Q: Singa dan kucing sama-sama memiliki persamaan, yaitu

A: Sering berkelahi

*Ekspektasi jawaban: sama-sama memakan daging. Pfffftt…

 

Kelas 4

Q: Makna peribahasa Tong Kosong, Nyaring Bunyinya adalah….

A: Air habis.

*Jawaban otak kanan. Nice! #senyum. Ini muridnya Anggi kalo ga salah.

 

Q: Tuliskan jenis-jenis akar tumbuhan!

A: Akar ubi, akar singkong, akar kelapa, akar papaya, akar kates.

*Oke, kalian betul Nak. Walaupun harusnya akar tunggang, serabut, dan teman-temannya.

 

Q: Tuliskan fungsi daun pada tumbuhan!

A: Menyebuhkan sakit hatiku.

*SAKIT HATI…..hahahaha.. bzzzzzzz

 

Q: Sebutkan jenis-jenis tulang!

A: Tulang ayam, tulang ikan, tulang kambing.

*Ada yang salah? Nggak ada, gurunya yang salah.. pfffftt.

 

Q: Apa yang dimaksud dengan peristiwa menguap?

A: Ngantuk.

*Jawaban cepet, simpel, tanpa mikir. Persis kayak gurunya. Hahaha.

 

Kelas 5

Q: Bahasa Indonesia dari Crocodile adalah….

A: Perkedel.

*How come? Krokodayle – Perkedel.

 

Q: Jadi jam dinding itu ada berapa jarumnya?

A: Tiga, Pak.

Q: Jarum yang paling panjang terus bergerak paling lambat disebut jarum?

A: Panjaaaaaang..

*Guru salah, murid selalu benar. Jawaban seharusnya: Menit.

 

Q: Apa ciri-ciri pubertas pada laki-laki.

A: 1. Cebok setelah pipis; 2.Ganti sempak dua kali sehari, biar gak gatel-gatel.

*No comment…. -_-‘

 

Q: Luwak adalah hewan ……. karena memakan segala.

A: penghasil White Cofee.

*Sekali lagi, korban iklan. Hahaha. #kzl

 

Q: Fotosintesis adalah….

A: Foto yang digambar.

*tik..tok..tik..tok..tik..tok.. Muridnya Fajri. –“

 

Q: Ibukota Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta adalah…

A: Ibu kota Kartini, putri sejati, Putri Indonesia, Harum namanya.

*Kesimpulan: Ibu kota Provinsi DKI Jakarta, Harum namanya.

 

Kelas 6

Q: Misalkan Bapak punya gelas, lalu gelas ini diisi air lewat keran. Dalam dua menit, gelasnya penuh oleh air. Nah kalau waktunya cuma ada satu menit, kira-kira berapa banyak ya air yang ada di dalam gelasnya?

A: Setengahnya, Pak.

Q: Kenapa bisa setengahnya?

A: Karena air ledengnya abis, Pak.

*Berdasarkan apa yang dilihat setiap harinya.

 

Q: Vaksin adalah virus yang sudah dilemahkan, kemudian disuntikan ke tubuh manusia agar menjadi antibodi. Ada yang tau jenis-jenis vaksin?

A: BCG, Hepatitis, Cacar.

Q: Ada lagi yang tau selain tiga jenis itu?

A: Suntik KB, Pak.

*hahahahaha, bingung nanggepinnya.

 

Q: Jika laki-laki sudah mimpi basah, maka yang harus dilakukan pada organ kelaminnya adalah…

A: Dirawat, sering dicuci, sering dibersihkan, kata Pak Bayu nggak boleh dimainin sembarangan lagi.

*damn it! HAHAHAHAHA.

 

Begitulah beberapa jawaban-sesuka-hati anak-anak murid saya. Jagoan-jagoan saya yang akan menjadi calon pemimpin dimasa depan. Terkadang setiap membaca kembali tulisan ini, terbayang reaksi saya saat itu.

Sebagai penutup, teruntuk murid-murid Bapak dimanapun kalian berada. Jika suatu saat nanti kalian membaca tulisan ini, ingatlah Bapak dan Kalian pernah melakukan hal-hal yang menyenangkan ini bersama-sama.

Semoga kalian menjadi orang yang sukses dan berhasil seperti janji yang pernah kita ucapin bareng-bareng. Tetap jadi anak yang jujur, tekun, juga pantang menyerah ya! Doa Bapak selalu bersama kalian. 😀

*NB: Kalian doain Bapak juga dong, supaya bisa main kesana dan ketemu kalian lagi!! Hahahaha.. #gurunyaPamrih #mintadidoainjuga #gakbolehdicontoh 🙂)))

 

Aroma yang Paling Saya Rindukan

Bukan bunga, bukan minyak wangi dengan harga selangit, bukan juga bau-bau menyenangkan lainnya. Aroma yang paling saya rindukan hanyalah bau pemutih pakaian.

Mengapa?

Karena aroma itu selalu ada pada tangan Ibu saya. Setiap pagi, setiap hari menjelang saya berangkat sekolah, saya selalu menciumnya. Lantas aroma itu tetap terekam jelas di otak saya, hingga sekarang.

Teka-Teki Matematika

Diantara teman-teman Pengajar Muda satu kabupaten, mungkin saya adalah satu-satunya yang mengajar murid saya secara abstrak. Sebagai contoh, jika yang lain mengajar berdasarkan buku paket berurutan per bab-nya, tidak demikian dengan saya.  Minggu ini mengajar bab satu, mungkin dua minggu lagi saya akan mengajari bab enam. Seenaknya saya aja. Hehehe. Karena dari awal bertugas, saya tidak pernah menganggap materi dari buku paket sebagai suatu hal yang paling penting. Nilai rapot sempurna bukan target saya. Karena setiap anak sebenarnya pintar, dengan cara  mereka sendiri.  Seperti yang sering saya katakan, “Bila diibaratkan, anak-anak adalah bibit unggul.  Ditanam dimanapun, mereka pasti akan tumbuh. Lingkunganlah yang akan membedakan pertumbuhan masing-masing bibit”.  Nah kewajiban kita adalah menciptakan lingkungan tersebut dengan berbagai cara agar sesuai.

Boleh dibilang concern saya dalam mengajar justru pada bagaimana menciptakan anak-anak yang memiliki karakter, juga pandai beretika dan berprilaku dalam masyarakat. Teman saya pernah berujar, ‘Anak pandai akan juara kelas. Anak berkarakter akan punya kelas’. Ingin anak murid punya kelas? Latih mereka agar berkarakter.

Saya juga ingin meng-quote kalimat dari Guru Ma dalam film Korea yang berjudul The Queens Classroom, ‘Tugas guru hanya menemukan potensi dan membimbing. Namun, anak-anak harus menemukan jalannya sendiri untuk merubah hidup dan dunianya agar lebih baik’. Jika menurut kalian ini berat, lalu sepertinya tidak mungkin untuk dipraktekkan, silahkan baca kalimat dari beliau berikut ini.  ‘Bukan saya tidak percaya pada mimpi yang tidak mungkin, saya percaya pada kemungkinannya’.

Berdasarkan kedua quotes itu, saya mempraktekkan permainan Teka-Teki Matematika. Tapi kalo boleh jujur, diantara penjabaran super diatas,  alasan paling utama saya adalah karena lagi males mengajar aja. Cetek sih.

IMG_4638

Ini adalah teka-tekinya. Dalam menjawab saya menekankan pada satu titik, “Clue-nya adalah ‘Perhatikan peraturannya!'”

Sesungguhnya permainan ini saya dapatkan dari guru Matematika SMP saya, saat beliau  menguji kemampuan logika saya.  Tantangannya mudah. Mengerjakan teka-teki ini  dalam 15 menit saja, sayangnya saat itu saya menyelesaikan dalam waktu 23 menit. Pemain diwajibkan  menuliskan angka 1-8 pada delapan kotak yang tersedia. Peraturannya sederhana, cukup menyusun agar angka yang berdekatan diletakkan tidak boleh berdampingan. Yang berdekatan tidak boleh berdampingan itu angkanya ya, jangan pada baper! :))

Saya memodifikasi peraturannya dengan beberapa tambahan. Pertama, saya meminta mereka membagi atas 2 kelompok dimana masing-masing kelompok harus memiliki ketua regu dan juru bicara. Seluruh anggota kelompok wajib untuk mencoba menyelesaikan tantangan secara mandiri terlebih dahulu.  Selanjutnya, para anggota akan berdiskusi untuk menemukan jawaban yang tepat. Pada akhirnya juru bicaralah yang akan memberikan jawabannya.

Berikut gambaran proses mengerjakan tantangannya.

IMG_4629IMG_4618

IMG_4630    IMG_4628

IMG_4627    IMG_4617

IMG_4646    IMG_4635

IMG_4634

 

 

 

 

 

 

 

Lalu ini jawabannya (perhatikan hasil urek-urekkannya!)

IMG_4636    IMG_4624

beberapa contoh jawaban yang kurang tepat.

 

IMG_4631

5 dan 6 berdampingan, begitu juga dengan 6 dan 7, 7 dan 8.

 

IMG_4632

5 dan 6 juga 7 dan 8 berdekatan.

 

IMG_4633

1 dan 2 berdekatan, dan ada dua angka 6.

 

IMG_4622

1 dan 2, juga 7 dan 8 saling berdekatan.

 

IMG_4623

5 dan 6, 7 dan 8 berdekatan. Ada dua angka 7.

 

Selesai? Belum.

Ada tahapan paling penting dalam permainan ini, yaitu membuat recap. Saya terbiasa mengulang kembali atas apa aja yang sudah anak-anak pelajari selama bermain. Sebagaimana quote yang saya tulis diatas, ‘anak-anak harus menemukannya caranya sendiri’. Mereka harus menemukan sendiri insight dari permainan ini.

“Jadi, selama satu jam kebelakang ini kita belajar apa aja?”

“Matematika, Pak!” yah seperti biasa, jawaban sekenanya, standar tanpa mikir.

“Lain  matematika, je.  Bapak juga tau kalo kalian lagi belajar matematika,” seperti biasa perlu dipancing. “Ada yang mau berpendapat?”

Anak murid saya bernama Iksan mengangkat tangan, “Kita belajar ngatur angka, Pak!’

“Mengatur. Apanya yang diatur?”

“Angkanya, Pak!” kembali jawaban sekenanya, standar tanpa mikir.

“Lain itu je! Diatur agar apa?”

“Agar sesuai dengan peraturannya.”

Oke sejujurnya jawaban itu betul, “Bagus. Apa lagi?”

“Belajar diskusi, Pak!” kata murid yang lain bernama Dahma.

“Belajar berdiskusi, betul! Belajar apa lagi?”

Murid yang lain lagi bernama Azhar mengangkat tangan, “belajar sendiri-sendiri, Pak!”

“Apanya yang sendiri-sendiri, Zhar?”

“Itu nah ngerjainnya sendiri-sendiri. Kalo udah bisa baru bareng-bareng.”

“Bagus! Belajar meyelesaikan tantangannya sendiri-sendiri.”

Dialog diatas adalah sebagian kecil dari interaksi di dalam kelas saat itu. Sesungguhnya, dialognya lebih panjang dan lebih nyeleneh daripada itu. Sebenarnya, beberapa hal yang dapat dipelajari adalah, Leadership Skill, Problem Solving, Public Speaking, Berdiskusi, dan yang terpenting adalah menemukan berbagai alternatif penyelesaian juga memperhatikan banyak sisi. (Karena saat meletakkan angka 1 dan 2, ada angka 7 dan 8 yang juga harus dipikirkan).

Diluar itu semua,  saya tidak memiliki ekspektasi anak-anak murid saya mampu menyelesaikan tantangan ini. Bagaimana tidak? Saat saya meng-upload teka-teki ini di media sosial dan meminta teman-teman saya ikut menjawab, mereka (yang umurnya 20 tahun keatas) aja memerlukan waktu yang 15-30 menit untuk berhasil menyelesaikannya.

Tapi, -yeeeaaah- memang setiap anak memiliki kecerdasan masing-masing, karena empat dari enam belas murid saya mampu menyelesaikan soal ini! Mereka bisa!!! Dan inilah jawaban yang tepat dan para juaranya!

IMG_4648    IMG_4644

IMG_4642    IMG_4641

 

***

Penuh Kejutan #1

Setelah 3 Minggu belakangan ini ada di kabupaten, hari ini khusus meluangkan waktu untuk ngobrol bareng keluarga. Apalagi kalo bukan tentang maling motor di desa yang lagi jadi trending topic dari dusun hulu ke hilir, dari RT 1 sampai RT 13, lalu merembet ke obrolan tentang fenomena Minyak Pasir. Semacam ilmu dan  jampe-jampean yang dipercaya bisa menangkap maling. Konon, apabila mencuri barang yg kebetulan sudah diolesi minyak ini, pencurinya akan terkena sakit kuning. Yang paling keren adalah ga bisa bergerak sesaat setelah mengambil barang curian. Luar biasa.

Sesaat kemudian, obrolan sama Mamak bergeser ke segala sesuatu berbau klenik…

A: disini biasanya ngelarung pisang berangan buat sesajen. Kan sepupu sekaliku ada yg kembar buaya, Yu..

*jengjeng*

B: Kembar Buaya? Lahir bareng Buaya gitu? 

A: iya..abis bayinya lahir, ga berapa lama ada lagi yg keluar, sebesar cicak itu nah waktu lahir. 

Dilepas ke sungai sama bidannya. Sekarang umurnya mungkin udah 50an, entah laki apa perempuan buayanya.

Kalo malem-malem khusus suka muncul di deket rumah Nenek, kan kembarannya itu cucunya.

B: Apanya muncul Bu? 

A: Buayanya..

B: Disitu?

A: iya, kalo lagi muncul mungkin minta makan, jadi kadang nge arung pisang berangan sama telur sebiji.

B: *mendadak mules* itu kan tempat aku sering berenang, Bu..😨😨😨

2 fakta!

1. Legenda kembar buaya itu nyata..

2. yah mungkin saya pernah berenang bersama Buaya yang berumur 50 tahun.

#PaserPenuhKejutan

Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau Dan Pemilik Masa Depan Indonesia

Indonesia Tanah Air Beta

Ini Indonesia; negeri yang kekayaan alamnya membuat iri bangsa lain hingga mereka mau susah payah mengarungi setengah bola dunia hanya demi rempah-rempahnya, pemilik laboratorium hayati paling lengkap sedunia, dengan keragaman budaya yang kemajemukannya tak tertandingi, negara dimana ribuan pulau baik yang berukuran besar atau kecil berkumpul menjadi sebuah satu kesatuan. Sekaligus negara dengan tingkat korupsi terbesar kedua di dunia? Memang. Tapi jangan lupa, ketika di belahan lain dunia masih menganut sistem kasta, di sini kita sudah mempraktekkan dengan sukses toleransi antar-suku setiap hari. Ketika negara lain memilih menggunakan bahasa bangsa penjajahnya sebagai bahasa nasionalnya, bangsa ini dengan lantang menyatakan diri berbangsa satu, bertanah air satu, dan menjunjung bahasa persatuannya: Bahasa Indonesia, jauh sebelum memproklamasikan kemerdekaannya tujuh puluh tahun yang lalu.

Sekarang mari kita fokuskan pada uraian jumlah pulau di Indonesia. Berdasarkan hasil survei geografi dan toponimi (tahun 2007-2010) yang telah dilaporkan ke Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), jumlah pulau di negara ini mencapai 13.466 pulau. Jumlah tersebut, menurut Kementerian Kelautan & Perikanan, 87,22% atau sekitar 11.746 pulau di antaranya adalah pulau tak berpenghuni.Hanya 1.721 pulau atau sekitar 12.78% saja yang dihuni dan angka ini sudah termasuk pulau-pulau besar seperti Pulau Sumatera, Jawa, dan Sulawesi,serta pulau kecil seperti Pulau Sabira di perbatasan Propinsi Lampung dan DKI Jakarta, Pulau Balabalagan di perbatasan Propinsi Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat, dan Pulau Natuna di perbatasan Propinsi Kepulauan Riau dan Sumatera Selatan.

Dengan tantangan geografis yang demikian, sudah pasti mengurus bangsa yang majemuk ini bukan perkara yang mudah.Kualitas pendidikan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil, belum bisa disamakan dengan mereka yang tinggal di pulau besar, termasuk kualitas pendidikan anak-anak usia sekolah. Akses menuju lokasi yang tidak mudahmembuat banyak wilayah menjadi tertinggal dalam hal akses informasi, sumber pengetahuan, media belajar, bahkan seringkali kekurangan tenaga pendidik yang berkualitas. Persoalan ini dihadapi dihampir setiap pulau terluar di Indonesia.

Pulau terluar? Ya, selama ini kita cenderung mengenal pulau-pulau besar seperti Pulau Kalimantan, Pulau Papua, Pulau Bali dengan istilah pulau dalam. Sementara pulau-pulau di Kepulauan Riau, Kepulauan Sangihe, Pulau Rote yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga, biasa disebut sebagai pulau terluar. Kini mari kita ganti terminologi “pulau terluar” menjadi pulau terdepan dari Indonesia, sebuah sudut pandang yang melahirkan persepsi baru.

Sebagai salah satu Negara Maritim terbesar di dunia, pulau-pulau ini sejatinya adalah garda terdepan yang menyambut kedatangan kapal-kapal asing. Mereka juga yang menjaga dan mengawasi teritori laut Indonesia. Mencegah para kapal-kapal asing yang kerap mencuri hasil laut, termasuk juga para penyelundup illegal logging, obat-obat terlarang, dll masuk dan keluar seenaknya tanpa memperdulikan batas wilayah negara. Namun, apakah masyarakatnya sudah siap?

Jika dirunut, masalah yang berkaitan dengan masyarakat di wilayah pulau terdepan Indonesia jumlahnya sangat banyak. Tak hanya minimnya akses informasi, setiap hari warga Negara Indonesia di pulau-pulau tersebut juga dihadapkan pada terbatasnya sumber energi, mahalnya bahan kebutuhan pokok, hingga ketimpangan sarana pendidikan & pendukung lainnya. Setiap hari, mereka dihadapkan pada pilihan antara menanti pasokan kebutuhan pokok yang sulit terjangkau harganya, atau menggunakan komoditas negara tetangga yang mau tidak mau transaksinya dilakukan tidak dengan mata uang Indonesia. Kesenjangan fasilitas dan beragam akses antara titik-titik terdepan negeri ini dengan negara tetanggajugakerapmenimbulkankecemburuan. Di sini, perjuangan memelihara semangat dan tenun kebangsaan diuji setiap hari.

Pendidikan adalah Tanggung Jawab Bersama

Mari berandai-andai jika masyarakat di pulau-pulau terdepan tercerdaskan dan memiliki pengetahuan yang baik disertai jiwa nasionalisme yang tidak kalah baik. Tentunya kita tidak perlu khawatir atas milyaran uang negara yang hilang karena illegal fishing dan illegal logging, karena masyarakat disana akan dengan sukarela menjaga wilayah laut yang selama ini menjadi area penyelundupan ikan dan kayu.

Kita ingin Indonesia yang lebih baik, dan ini hanya bisa dicapai melalui peningkatan kualitas manusianya. Mengubah manusia selalu dimulai melalui proses pendidikan. Sedemikian pentingnya pendidikan hingga Nelson Mandela pun berujar, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa digunakan untuk mengubah dunia”. Memperbaiki kualitas pendidikan secara tidak langsung berarti ikut memperbaiki keadaan yang ada disana. Tidak adacara lain, kunci kekuatan bangsa ini ada pada manusianya: manusia Indonesia yang terdidik dan tercerahkan.

Kita melihat bahwa kesadaran akan pentingnya hal tersebut menguat dan memicu berbagai gerakan positif di Indonesia.Menyadari bahwa tidak mungkin seluruh persoalan pendidikan inibisa diselesaikan secara bersamaan oleh pemerintah. Kami membentuk dan mengembangkan Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP)untuk merangkul banyak pihak dan bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah pulau-pulauterdepan demi menyiapkan generasi penerus,garda terdepan Indonesiayang tangguh.

Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) inilahir sebagai wadah para pekerja profesional untuk berpartisipasi sebagai relawan aktif dalam menguatkan pendidikan di pulau-pulau kecil. Hadirnya para profesional di ruang-ruang kelas adalah bukti bahwa pendidikan yang baik akan membuka lebih banyak peluang peningkatan sosial ekonomi. Anak-anak membutuhkan sosok panutan baru yang membuat mereka berani bercita-cita, bahkan melampauimimpinya. Kami menghadirkan sosok tersebut diruang kelas untuk bercerita tentang pengalaman mereka, sehingga anak-anak bisa belajar bagaimana Bapak atau Ibu Guru Profesional itu berhasil meraih pencapaian saat ini; menunjukkan bahwa impian itu bisa diwujudkan jika ia mau bekerja cerdas, jujur dan pantang menyerah.

Melalui KIJP, kami ingin menuntaskan misi untuk berbagi inspirasi dan menumbuhkan cita – cita anak Indonesia. Membentuk anak menjadi pribadi yang berkarakter positif dengan memaksimalkan potensi lokalnya. Setiap anak adalah bibit unggul. Ditanam dimanapun, kemudian mau dirawat atau tidak, mereka akan selalu tetap tumbuh. Perbedaan pada pencapaian setiap individu kelak tergantung pada kondisi lingkungan dan media tanam tempat mereka ditanam. Agar sifat-sifat unggulnya terjaga dan menjadi semakin unggul, tentunya mereka perlu dijaga agar tetap hidup di lingkungan tepat, pada media yang berkualitas: lingkungan yang menghargai setiap inisiatif, yang mengarahkan pada hal-hal baik, dan mendorong keinginan belajar dan kreativitas. Bukan berarti membuat segalanya mudah, tapi untuk menyemangati anak-anak bahwa setiap perjuangan baik dapat dimenangkan, apapun tantangannya.

Pilot Project: Kepulauan Seribu

Melibatkan beberapa orang profesional sebagai relawan pengajar & dokumentator, Pilot Project KIJP (saat itu masih bernama Kelas Inspirasi Jelajah Pulau) dimulai di Kepulauan Seribu pada awal tahun 2014. Para relawan ini dikirimkan ke Empat Sekolah Dasar di Pulau Tidung dan di Pulau Payung.Dalam program mengajar satu hari ini,mereka diminta bercerita mengenai profesi masing-masing.Termasuk, bagaimana cara mereka bekerja, lalu apa fungsi profesi mereka bagi masyarakat dan negara Indonesia, juga hal yang terpenting adalah bagaimana cara mereka bisa sampaimenjadi seperti sekarang. Cerita itu dikemas secara menarik sesuai dengan bahasa anak-anak. Sehingga mereka tertarik untuk  memahaminya, kemudian secara perlahanmembuka wawasan anak-anak tentang berbagai jenis profesi yang ada,mengajak mereka untuk berani bercita-cita dan meletakkan impiannya di tempat yang paling tinggi.

Didorong keinginan kuat untuk menjangkau pulau-pulau di sekitarnya, kegiatan KIJP batch 2 kembali diadakan pertengahan tahun 2014 dengan melibatkan relawan yang lebih banyak.Terbagi dalam beberapa kelompok, mereka ditugaskan di sekolah-sekolahyang tersebar di Pulau Tidung, Pulau Payung, Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Pari, dan Pulau Lancang.Kali ini selain mengajar satu hari,para relawan mendapat tambahan tugas yaitu memulai membangun komunikasi dan interaksi dengan orang tua siswa dan tokoh masyarakat sekitar, sekaligus memetakan potensi-potensi lokal yang ada di pulau masing-masing.

Menumbuhkan percik cita-cita adalah tentang menanam ketertarikan. Salah satu caranya dengan menghadirkan figur-figur teladan baru bagi anak-anak di ruang belajar mereka. Namun untuk merawat cita-cita mereka agar tetap tinggi dan besar, dibutuhkan kerja sama berbagai pihak, diantaranya sekolah, orang tua, dan lingkungan.  Karenanya, pada Batch 3 awal tahun 2015, kami melibatkan tiga pilar utama yang mampu mendukung misi kegiatan.  Sekolah, Masyarakat (Orang Tua dan Warga), dan Lingkungan. Kegiatanini dilaksanakan di Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Pari, dan Pulau Lancang, Pulau Panggangdan Pramuka.

Berbicara tentang cerita profesi, apa yang disampaikan oleh para relawan didalam ruang belajar adalah sumber pengetahuan sekaligus wawasan baru bagi anak-anak. Namun mari renungkan hal berikut ini. Bayangkan ada seorang guru sedang bercerita pada anak-anak tentang sebuah bola yang berbentuk bundar. Sayangnya selama pelajaran itu berlangsung, guru tersebut tidak pernah menunjukan sebuah bola, maupun benda-benda berbentuk bundar. Apa yang terjadi pada anak-anak?  Mereka hanya tahu bahwa bola itu bundar, tanpa pernah tahu bentuk bola seperti apa dan bagaimana bundar itu. Begitupun dengan cerita profesitadi. Tanpa pernah mengalami, melihat langsung, dan merasakan sendiri, cerita-cerita inspiratif itu selamanya akan menjadi sebuah cerita di dalam benak anak-anak.

Sehubungan dengan itu, sebuah program dirancang dengan tujuan memfasilitasi anak-anak agar bisa merasakan secara nyata berbagai cerita inspiratif yang sebelumnya sudah pernah mereka dapatkan. Program ini bernama Camp Anak Pulau(CAP). Jika pada kegiatan sebelumnya para relawan datang dan hadir ke sekolah untuk mengajar sehari, maka pada CAP ini para Relawan KIJP mengundang anak-anak di Kepulauan Seribu datang ke Ibukota selama 4 hari untuk mengikuti, mengalami, dan melihat berbagai aktivitas sehari-hari dilakukan oleh Para Relawandi profesi masing-masing. Kami yakin jika hasil dari sebuah cerita adalah pengetahuan, maka buah dari sebuah pengalaman adalah inspirasi. Inspirasilah yang dibutuhkan anak-anak agar merekayakin bahwa tidak ada yang salah untuk selalu bermimpi, mengejarnya, lalu kemudian mewujudkannya. Karena  sebaik-baiknya sebuah impian, adalah impian yang berhasil diwujudkan.

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

Candu yang baik ini bernama kesukarelaan. Sulit untuk berhenti, karena begitu kaki  menginjak dermaga, kesadaran untuk berbagi makin menguat. Salah seorang relawan KIJP berkata, setelah mengikuti kegiatan ini, ia memperoleh sahabat dan keluarga baru. Bertemu dengan teman-teman lintas profesi yang dapat diajak bertukar pikiran mengenai dunia pendidikan dari sudut pandang keprofesian. Hal ini berguna untuk menemukan berbagai pendekatan dalam mengajar anak-anak.

Kawan lainnya menyebutkan, wawasan dan pemikirannya tentang bidang pendidikan semakin terbuka, khususnya pada wilayah sub-urban seperti Kepulauan Seribu. Kepedulian terhadap permasalahan sosial dan pendidikan pada masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan juga meningkat dibandingkan sebelumnya.

“Keikutsertaan di komunitas ini memperkaya pengetahuan tentang pulau-pulau di Indonesia, lengkap dengan keunikan, keunggulan, dan permasalahan sosial yang ada.”

“Pastinya setelah menjadi relawan KIJP, saya jadi lebih percaya diri bahwa banyak orang-orang Indonesia yang peduli sama pendidikan anak-anak Indonesia. Selain itu semakin yakin, bahwa kita bisa ikut berpartisipasi dalam hal mengatur arah berlayarnya negara ini.”

Terkait masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan, alumni relawan KIJP yang lain berujar, “Saudara kita di pulau, karakternya beda tapi unik. Anak-anaknya cerdas dan sangat lincah”.

“Saya merasa beruntung memiliki kesempatan lebih: berinteraksi dengan masyarakat Kepulauan Seribu. Mereka mengajarkan banyak hal. Anak-anak selalu antusias dan tidak pernah kehabisan energi juga memberikan pelajaran yang lain. Belajar mencintai Indonesia dan ingin selalu berbuat lebih sesuai dengan kemampuanku.”

Rasanya pas jika semua kesan positif tersebut dirangkum dalam rangkaian kalimat pendek, ”Satu tahun sudah komunitas ini berdiri, masih banyak Pekerjaan Rumah untuk diselesaikan bersama-sama. Ini bukan saatnya diam, belum saatnya berhenti,”

Merawat Indonesia

Tulisan ini dibuat untuk mengajak setiap pihak berpikir, Indonesia seperti apa yang akan kita wariskan pada anak-anak kelak. Ketika banyak bangsa menganggap bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hal yang mustahil untuk suatu wilayah luas yang lama dijajah, para pendahulu kita mematahkan anggapan tersebut dengan bersepakat dan berjuang bersama. Amanah untuk membangun Indonesia yang lebih baik kini jatuh ke tangan kita, dan harus dimulai dari sekarang. Memang tidak instan, lama-tidaknya tergantung dari kekuatan tekad dan sinergi kolektif. Tapi jika semua bersepakat dan memulai hal baik ini segera, ini pun adalah perjuangan yang pasti kita menangkan. Berjuang untuk bangsa bukan semata-mata membebaskan negara dari penjajahan fisik, namun ikut juga membangun sumber daya manusia dan merangkul mereka yang memiliki keterbatasan.  Kekayaan terbesar daro sebuah bangsa ada pada sumber daya manusianya.

Cita-cita ini telah dirajut dari wilayah paling dekat yang terjangkau para relawan: Kepulauan Seribu. Impian besar untuk menjangkau pulau-pulau terdepan Indonesia & menguatkannya di segi pendidikan adalah sesuatu yang tanpa lelah akan selalu diupayakan. Kami mengajak Anda, para putra-putri daerah, untuk bersinergi bersama, bahu membahu, gotong royong, membangun Manusia Indonesia melalui pendidikan di daerah masing-masing. Ini bukan hanya ajakan untuk membantu masyarakat lokal, tapi juga untuk memberdayakannya.

Mari ikut dalam barisan orang-orang yang mengupayakan terbaik untuk para pemilik Masa Depan ini. Hadirlah dengan hati, mendidiklah. Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kita mulai dari anak-anak.Mari bermimpi anak-anak di pulau terdepan berhasil tercerdaskan, integritas masyarakatnya jauh lebih baik, praktek illegal fishing menurun, kesejahteraan meningkat, lalu tempat mereka tinggal mereka menjadi gerbang masuk dan keluarnya kapal-kapal asing untuk bertransaksi ekonomi, fasilitas terbangun, wilayah kepulauan maju, negara akan ikut maju. Indonesia akan maju. Saatnya memastikan bahwa Indonesia kelak dirawat oleh Generasi Pembelajar yang tangguh; bagaimanapun tantangan yang kelak dihadapi, mereka akan selalu bisa diandalkan. Mari ikut memastikan agar mereka tumbuh di lingkungan yang tepat pada media yang berkualitas.

Tantangan yang terbesar adalah tidak hanya menanam tapi juga merawat kesadaran berbangsa. Hari ini kita yang berjuang untuk mewujudkan mimpi kita: membangun negeri ini. Saatnya menyiapkan. Anak-anak yang kita ajar untuk tangguh saat dewasa kelak akan berkata: “Saya siap turut ambil bagian membangun negeri ini!”. Tujuannya sama, pejuangnya yang berbeda. Untuk Indonesia yang lebih baik, Merdesa!*

—–

Ditulis oleh Bayu Filladiaz Wiranda & para relawan KIJP lainnya, dalam rangka merayakan Hari Komunitas Indonesia.

*) merdesa = layak dan patut (KBBI). Setelah merdeka, menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdesa seperti yang terurai pada Pembukaan UUD 1945 adalah cita-cita selanjutnya

Ulangan dan Tebak-tebakkan

Sekali lagi, permainan Jika dan Maka dimulai. Kali ini berlangsung di kelas 4. Kelas ini terdiri dari 20 anak, 11 anak laki-laki dan 9 murid perempuan. Sebenarnya hari ini jadwal ulangan harian pelajaran IPA. Me-review pelajaran BAB I mengenai Rangka dan Alat Indra Manusia. Dengan metode berbeda, ini pertama kalinya suasana ulangan layaknya bermain tebak-tebakkan.

Setiap anak mendapatkan jatah menjawab 2 soal. Saya memulai permainan dengan pertanyaan, “Jika fungsi rangka adalah untuk menegakkan tubuh, maka penyakit tulang belakang membengkok kedepan disebut dengan apa, Arsyad?”

“Lor -eh- Kifosis Pak,” Jawab Arsyad. Saya mengangguk. “Jika penyakit tulang membengkok kedepan disebut dengan Kifosis, maka Indra Manusia  yang ada lima disebut apa, Rahman?”

“Anu.. Aduduh.. Anu, panca.. Panca warna, Pak,” inilah bagian serunya bermain Jika dan Maka. “Bukan Pak, Panca Indra!”

“Hahahaha, panca warna itu batu akik, je. Lanjutkan Rahman!”

“Jika indra manusia disebut Panca Indra, maka sebutkan tiga jenis tulang, Farhan?”

Farhan menjawab, “Tulang Ikan, Tulang Ayam, Tulang Kambing.”

Ibarat di dalam sebuah kartun, tiba-tiba akan muncul tiga buah garis di dekat kepala, lalu ada angin sepoi-sepoi menerbangkan sebuah kertas putih hingga berputar, dan diiringi bunyi jangkrik, kriik…kriik..kriik..

***